Pascasarjana IAIN Metro

KEADABAN PUBLIK

Oleh :

Dr. Mukhtar Hadi, S.Ag., M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)

Tulisan ini dimaksudkan untuk menasehati diri sendiri yang sering berperilaku tidak beradab atau istilah yang agak lembut, kurang beradab. Penting ! Karena mengubah sikap yang kurang beradab menjadi lebih beradab harus dimulai dari diri sendiri. Melalui sikap beradab yang dimulai dari setiap diri (individu) itu maka keadaban publik bisa terbangun. Bangsa-bangsa  yang mewariskan sejarah besar sehingga dinilai memiliki peradaban besar dibangun oleh masyarakatnya dengan sikap keadaban sosial. Negara-negara yang maju seringkali juga digambarkan sebagai negara yang tidak hanya maju dalam ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi masyarakatnya juga digambarkan memiliki perilaku-perilaku yang toleran, peduli, bersih dan teratur. Nilai-nilai yang disebutkan terakhir ini yang merupakan pilar dalam membangun keadaban publik (Public Civility).

Potret keadaban publik masyarakat kita tentu bisa dirasakan dan disaksikan setiap hari di berbagai tempat dan  berbagai situasi. Setiap kita mungkin juga sering menyaksikan dan merasakan sendiri berdasarkan pengalaman langsung.

Di suatu traffic light ketika semua orang berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah, tiba-tiba ada saja orang-orang yang menerobos lampu lalu lintas dengan tanpa menghiraukan keselamatan dirinya dan orang lain. Di tengah jalan yang ramai dan padat ada saja orang yang berkendara secara ugal-ugalan, ngebut melebihi batas kecepatan yang membahayakan banyak orang. Beberapa waktu yang lalu bahkan ada yang mengacungkan pistol ke pengendara lain hanya karena berebut jalan. Di tengah antrian panjang ketika orang membeli bahan bakar, antrian bagi sembako, antrian bagi daging kurban, antrian di kasir, di loket, dan di banyak tempat lainnya, ada saja orang yang mengabaikan antrian itu dengan memotong antrian dan minta dilayani terlebih dahulu, padahal ia datang belakangan. Banyak orang yang lebih nyaman membuang sisa bungkus makanan dan minumannya di sembarang tempat, padahal tidak jauh dari tempatnya duduk sudah disediakan kotak tempat sampah. Banyak fasilitas publik dirusak dan dicoret-coret dengan kata-kata kotor dan tidak senonoh. Kalau kita masuk ke toilet umum, akan didapati coretan dan vandalisme itu di hampir permukaan dindingnya, belum lagi kondisi toilet yang kotor karena tidak adanya kesadaran penggunanya untuk menjaga kebersihannya.

Soal kepedulian sosial dan sikap toleran, masyarakat kita juga punya problem akut. Di tengah angkutan umum yang padat penumpang sehingga sebagian orang harus berdiri bergelantungan ada seorang ibu dengan perut besar harus terombang-ambing menahan goncangan angkutan umum, namun ada laki-laki gagah yang duduk manis menikmati perjalanannya tanpa menghiraukan si Ibu yang hamil besar di sebelahnya. Di dalam angkot yang padat penumpang, ada seorang laki-laki yang menikmati hisapan rokoknya dan asap mengepul mengepung ruang angkot, dia duduk dengan santainya tanpa peduli dengan sekitarnya. Dia kehilangan kepekaan sosialnya, padahal semua orang mengibas-ngibaskan tangannya untuk menghalau asap rokok yang menyerbu wajahnya.

Gambaran di atas adalah contoh-contoh perilaku sosial masyarakat kita yang bisa kita saksikan dan alami dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian kita mungkin saja pernah menjadi korbannya, atau berada dalam situasi tersebut, atau jangan-jangan kita juga pelakunya. Inilah potret keadaban publik. Jika ini berlangsung terus, maka hanya akan melahirkan vandalisme, egoism, premanisme dan perilaku “biadab”. (dalam bahasa, sikap tidak beradab disebut dengan biadab).

Keadaban public (public civility) adalah sikap atau perilaku yang menghargai, menghormati dan peduli dengan orang lain, taat pada aturan dan norma sosial serta menerapkan dan melakukannya dalam hubungan sosial dengan orang lain dan dalam kehidupan publik (masyarakat). Keadaban publik adalah ciri masyarakat yang maju dan terdidik. Bangsa-bangsa yang maju biasanya memiliki keadaban publik yang tinggi, sementara bangsa-bangsa yang terbelakang dan kurang terdidik biasanya memiliki kedaban public yang rendah. Meskipun demikian, ini bukan hanya sekedar soal tingkat pendidikan atau soal ketaatan dalam  beragama, tetapi ini soal mentalitas dan budaya serta komitmen dalam menginternalisasikan nilai kebaikan, nilai agama dan moral dalam kehidupan sehari-hari. Karena ternyata banyak juga mereka yang memiliki pendidikan tinggi, dipandang terhormat, rajin beribadah, dan lain sebagainya, tetapi memiliki keadaban publik yang rendah.

Keadaban Digital

Di era digital seperti sekarang ini, keadaban digital (Digital Civility) juga merupakan bagian dari keadaban publik. Bagaimana kondisi keadaban digital masyarakat kita? Tentu Jawabannya bisa disaksikan dan dirasakan dalam penggunaan ruang digital kita. Komunikasi ruang digital kita, baik lewat aplikasi sosial media atau mesin pencari digital setiap hari diserbu dan disesaki dengan bahasa caci maki, perundungan, penipuan, dan berita hoax. Tentu ini tidak semuanya, masih banyak juga hal-hal positif yang bisa kita rasakan dan memberi manfaat untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan pendidikan, dakwah agama, ekonomi digital, seni dan tentu saja hiburan. Namun demikian porsi negative keadaban digital kita masih sangat terasa besar.

Microsoft pernah merilis hasil survai pada bulan Februari  2021 dengan data survai tahun 2020 tentang keadaban digital negara-negara di dunia. Microsoft mengeluarkan Indeks Keadaban Digital (Digital Civility Index/DCI) yang menilai perilaku pengguna internet dari 32 negara di dunia. Indeks ini disusun dengan melakukan survai terhadap lebih dari 16.000 pengguna internet termasuk dari Indonesia. Dalam laporan mereka, warganet Indonesia, merupakan pengguna internet dengan peringkat keadaban paling buruk di Asia. Seolah hendak mengafirmasi temuan tersebut, warganet Indonesia pun berbondong-bondong merundung akun Instragram miliki Microsoft.

Dua wilayah Asia Pasifik, Singapura dan Taiwan, menduduki posisi lima besar dunia dengan skoir DCI paling tinggi, masing-masing menempati posisi keempat dan kelima, Sebaliknya pasar lain diaporkan mengalami pengalaman online yang lebih negatif, dengan Indonesia berada di peringkat 29 dari 32 wilayah dan Malaysia dilaporkan memiliki DCI paling kurang baik dalam lima tahun terakhir. Indonesia menempati urutan ke-29 atau hanya lebih baik dari Meksiko, Rusia dan Afrika Selatan. Skor DCI Indonesia adalah 76 atau delapan poin lebih buruk dari tahun 2019. (News.miscrosoft.com, 25/05/2021). Yang menarik, dalam survai Microsoft, ternyata remaja (usia 13-16 tahun) memiliki tingkat kesopanan lebih baik dalam indek digital dibandingkan dengan orang-orang dewasa. Remaja mendapat skor  63 dalam ukuran global keadaban online dibandingkan dengan orang-orang dewasa di indek 72. Untuk diketahui, semakin rendah nilai indek keadaban digital maka berarti lebih beradab secara digital dan sebaliknya semakin tinggi angka indek maka semakin tidak beradab secara digital.

Berdasarkan hasil rilis tersebut, maka Microsoft mendorong penggunaan internet yang lebih baik dan aman. Microsoft juga memperjuangkan Digital Civility Challenge, yang menguraikan empat prinsip yang dapat dilakukan pengguna online yaitu :

  1. Menjalankan golden rule – Bertindak dengan empati, kasih sayang, dan kebaikan dalam setiap interaksi, dan memperlakukan semua orang di dunia maya dengan bermartabat dan hormat.
  2. Menghormati perbedaan – Untuk menghargai perbedaan budaya dan menghormati sudut pandang yang berbeda, saling berinteraksi dengan berhat-hati, memikirkan perasaan orang lain dan menghindari “sebutan nama” serta saling menyerang.
  3. Berpikir sebelum membalas – Untuk berhenti sejenak dan berpikir sebelum menanggapi dan tidak memposting atau mengirim apa pun yang dapat menyakiti orang lain, merusak reputasi seseorang, atau mengancam keselamatan.
  4. Membela diri sendiri dan orang lain – Memberi tahu seseorang saat merasa tidak aman, menawarkan dukungan kepada mereka yang menjadi sasaran pelecehan atau kekejaman online, dan melaporkan aktivitas yang mengancam keselamatan. (News, Microsoft.com, 25/05/2021).

Khulasah

Dalam Islam, ajaran tentang keadaban publik boleh dikatakan setengah dari inti ajaran Islam. Hal ini sesuai dengan perintah Allah untuk hablun minallah dan hablun minannas. Perintah untuk membangun hubungan dengan Allah diwujudkan dalam bentuk taqarrub illllah melalui ibadah mahdhah, sementara perintah untuk membangun hubungan dengan sesama manusia dilakukan dengan taat asas dan aturan, saling membantu, saling menolong, bekerjasama, berempati dan peduli dengan sesama manusia. Jika hablun minallah wujudnya kesalehan individual, maka hablunminannas wujudnya adalah kesalehan sosial. Hubungan sosial yang dihiasi dengan akhlakul karimah adalah perwujudan dari keadaban publik. Dengan demikian setiap muslim yang shaleh secara sosial, maka  sesungguhnya dia telah mengejawantahkan public civility. (MH)