Pascasarjana IAIN Metro

PASCASARJANA IAIN METRO MELAKSANAKAN WEBINAR S2 PAI DENGAN TEMA “IMPLEMENTASI PENDIDIKAN TAUHID DALAM SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL : REVITALISASI, REFUNGSIONALISASI, DAN REAKTUALISASI”

Pascasarjana IAIN Metro pada hari Senin tanggal 25 Oktober 2021 mengadakan kegiatan Seminar Nasional Pendidikan Agama Islam dengan tema “Implementasi Pendidikan Tauhid dalam Sistem Pendidikan Nasional: Revitalisasi, Refungsionalisasi, dan Reaktualisasi”. Seminar ini menghadirkan para pakar dalam bidang Pendidikan Agama Islam yaitu Prof. Dr. Abuddin Nata, MA., Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan S.U., dan Dr. Masykurillah, S.Ag., M.A. Kegiatan seminar ini mendapat sambutan dari Rektor IAIN Metro Dr. Siti Nurjanah, S.Ag., PIA., dan Direktur program Pascasarjana IAIN Metro Dr. Mukhtar Hadi, M.Si.

Direktur program Pascasarjana IAIN Metro menyampaikan bahwa seminar ini adalah seminar nasional ke-empat pada tahun ini sembari memberikan informasi kepada para hadirin bahwa pada akhir November akan diselenggarakan kegiatan internasional yaitu Metro International Conference Islamic Studies (MICIS). Topic hari ini diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam kebijakan pada Pendidikan Agama Islam dan juga pada pendidikan nasional. Karena tauhid adalah landasan dan dasar utama bagi agama. Landasan dan dasar ini juga menjadi bagian utama dari kegiatan manusia. Hal inilah yang menjadikan tauhid dapat berintegrasi dalam seluruh aspek kehidupan umat Islam.

Rektor IAIN Metro menyampaikan dalam sambutannya bahwa karya-karya dari nara sumber pada seminar nasional ini menjadi rujukan utama dalam pengembangan matakuliah moderasi beragama di IAIN Metro. Beliau memberi penguatan bahwa ilmu tauhid adalah perintah pertama dan terbesar. Tauhid juga salah satu misi besar dari para Nabi dan Rasul. Tauhid menjadi intrinsic pada kehidupan, terutama pada intrinsic spiritual bagi masyarakat muslim di Indonesia. Ilmu tauhid berada pada urutan pertama dan menjadi urusan yang penting, sehingga menjadi kewajiban bagi pembelajar yang beragama Islam. Tauhid berkontribusi pada kesuksesan kehidupan berbangsa dan bernegara. Beliau juga menyampaikan satu quote dari ahli yaitu “Tauhid sukses, bernegara sukses”. Melalui quote ini, Rektor IAIN Metro menguatkan bahwa pendidikan tauhid sangat diperlukan untuk dipelajari dan didalami untuk kemajuan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Prof. Abudin Nata menyampaikan urgensi dari akidah tauhid dalam kehidupan.
Suatu pilihan yang tepat tauhid menjadi aqidah yang menjadi energy bagi bangsa. Ideologi juga mengandung ke-tauhid-an, yaitu pada sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan adanya refleksi tauhid pada ideology Negara, jika mengganggu ideology Negara maka mengganggu tauhid bangsa Indonesia. Beliau mengungkapkan bahwa kata tauhid muncul lebih dari 3000 kali di dalam Al-Qur’an pada hubungannya dengan zat, sifat dan perbuatan Tuhan hal ini menunjukkan perlunya pemahaman, penghayatan dan pengalaman akidah tauhid. Berdasarkan hadits juga disebutkan bahwa tauhid disampaikan dengan cara yang valid, tegas, dan lugas. Ini menjadikan penyampaian ajaran Tauhid begitu special. Beliau juga menyampaikan bahwa akar dari perdebatan antar kelompok disebabkan penggunaan dalil naqli dan aqqli sehingga mengarah kepada konflik dan perpecahan, terutama setelah ada campur tangan politik penguasa. Ajaran akidah tauhid telah dirusak oleh banyak faktor yang sengaja di buat oleh manusia. ajaran akidah tauhid telah dipengaruhi paham relativisme, positivism, rasionalisme dan empirisme yang tidak mengakui adanya yang ghaib. Secara umum bahwa beliau menyatakan rusaknya akidah tauhid itu disebabkan oleh manusia sendiri. Beberapa solusi yang Prof. Abudin sampaikan untuk mengatasi problematika ini dalam ranah pendidikan adalah 1) Dengan memperkuat tercapainya mutu pendidikan nasional, manusia unggul, Indonesia maju tahun 2045 dan meningkatkan kompetensi lulusan, 2) dengan menerapkan pendidikan akidah tauhid berbasis masjid, dan 3) dengan mendesain pendidikan efektif berbasis tauhid yang didukung oleh seluruh komponennya yang dirancang secara konsepsional serta konsisten.

Melalui judul Islam reflektif, Prof. Munir memberikan clue kepada audien melalui satu pertanyaan yaitu mengapa ada korupsi? Beliau mengutip informasi dari berita online yang menyatakan bahwa terdapat 444 kasus korupsi sepanjang tahun 2020. Beliau berasumsi bahwa koruptor-koruptor yang terlibat ini dapat dipastikan ada yang pernah memperoleh Pendidikan Agama Islam, khususnya ilmu tauhid. Korupsi dipandang sebagai dosa kecil yang bisa diampuni/ditebus dengan solihat/hasanat, bukan dosa tak terampuni. Harta yang dikorup bukan harta Islam tapi harta tak bertuan. Tindakan korupsi bukan tindakan maksiat. Pernyataan-pernyataan ini diungkapkan di dalam slide power point yang beliau sajikan. Berdasarkan pengamatan beliau, pendidikan agama dan dakwah kurang fokus pada afeksi, kebanyakan hanya fokus pada kognisi. Artinya pendidikan hanya mempedulikan pada ranah siswa tahu tentang tauhid, tetapi belum sampai pada ranah psikomotorik dan afektifnya. Hasil pengamatan ini menjadi pekerjaan bagi para peneliti dan pemerhati agama dan pendidikan untuk mengadakan studi tentang penyelenggaraan pendidikan agama yang mampu menuntun pada pencegahan perilaku yang tidak baik dan tergolong maksiat.

Dr. Masykurillah menyajikan materi dengan judul model pembelajaran ilmu tauhid dalam mengembangan kecerdasan spiritual. Model pembelajaran yang berorientasi pada kecerdasan spiritual memiliki 5 sub tujuan dari tujuan Pendidikan Nasional, yaitu beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab. Dalam proses mendalam kecerdasan spriritual memerlukan kepandaian dalam hal ketenangan jiwa, hidup berkah, dan kebahagiaan hidup yang hakiki. Pada seminar kali ini, beliau menyajikan model pembelajaran fitrah. Langkah dari model pembelajaran ini terdiri dari 17 langkah yang mana ini merupakan refleksi dari 17 rakaat sholat wajib dalam satu hari. Salah satu langkah ini adalah melakukan muhasabah. Langkah ini adalah salah satu aktivitas kunci dalam mempelajari kecerdasan spiritual. Spesifikasi dari model pembelajaran fitrah adalah pendidikan sebagai tauladan, teori belajar humanistic islam, diawali hakikat diri, transfer of value, pembelajaran bermakna, muhasabah, repeat power, dan belajar dari proses.

Acara seminar ini berjalan dengan lancar dan mendapatkan tanggapan baik dari para akademisi di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya peserta dari hampir seluruh wilayah Indonesia. Seminar ini memunculkan banyak sekali pertanyaan kepada ketiga narasumber baik melalui pertanyaan langsung maupun melalui kolom chat. Wallahu a’lam bi al-Showab.