Pascasarjana IAIN Metro

Setiap Tempat adalah Zawiyah

Oleh : Dr. Ratu Vina Rohmatika, M.Pd. (Dosen IAIN Metro)

 

Zawiyah adalah satu istilah yang cukup akrab di telinga orang-orang yang menggeluti persoalan tasawuf. Istilah lain yg searti dengan kata ini dalam bahasa Arab adalah ribath. Di persia dikenal dengan nama Khanqah, jamaat-khana, di Turki disebut tekke. Istilah ini sering diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi Lodges atau hospices. Di Indonesia sendiri disebut dengan nama pondok atau pondokan.

Zawiyah merupakan tempat tinggal para sufi, tempat mereka melakukan ibadah ritual–berzikir, berdo’a, salat, membaca kitab suci, dan sebagainya. Awalnya, istilah ini muncul untuk menunjukkan satu ruangan di Masjid yang dipakai oleh para sahabat Nabi Saw.untuk beribadah. Istilah ini terkenal dan sering dipakai, menurut Carl W Ernst, pada abad ke-11 Masehi di Iran, Syria, dan Mesir.

Model dari zawiyah itu bervariasi, ada yang berupa bangunan besar yang dikelilingi oleh ratusan rumah kecil di sekitarnya. Ada juga yang berupa tempat tinggal sederhana yang menempel pada rumah sang guru. Bangunan zawiyah pada periode awal yang terkenal didirikan oleh Abu Said (w. 1049) di bagian timur Iran dan Zawiyah Said al-Suada yang didirikan oleh SAlahuddin al_ayyubi pada 1174 di Kairo.

Pandangan yang populer dalam tasawuf mengatakan bahwa di zawiyahlah tempat para sufi menempa diri dan menyepi untuk beribadah. Di zawiyah ini mereka berzikir selama sekian waktu.

Konsep tentang zawiyah yang berbentuk bangunan ini digugat oleh beberapa pengikut tasawuf era sekarang ini (termasuk oleh Tarekat Naqsyabandiyah) (Ahmad Najib Burhani : 2002). Konsep ini, menurut mereka sulit untuk menciptakan manusia yang integral dan holistic. Sesekali waktu berada di zawiyah untuk melakukan instrospeksi diri adalah baik. Namun, bila orang keterusan dan selamanya di zawiyah, maka ia akan menjadi ekslusif, tidak bermasyarakat, dan egois.

Syaikh Muzaffer Ozak menyimpulkan tasawuf dalam kalimat “Biarkan tanganmu sibuk menunaikan tugas-tugasmu di dunia ini, dan biarkan hatimu sibuk dengan Allah Swt.”

Memang, secara spiritual pada saat tertentu manusia perlu melakukan disengagement atau melepaskan diri dari kehidupan sehari-hari, supaya manusia membuat jarak lagi dengannya dan kita bisa melihat kehidupan dengan lebih benar. Inilah diantaranya kenapa Nabi memberi perintah untuk melakukan zikir, I’tikaf, dan beliau sendiri pernah melakukan khalwat di gua Hira’. Ini pula mengapa Rasul Saw. memerintahkan umat untuk melakukan tahajud di malam yang sunyi, “fatahajjad bihi nafilatan laka” (Q.S. al-Isro: 79). Ini pula yang dimaksud oleh al-Ghazali dengan konsep ‘uzlah. Maksud dari tahajud, zikir, dan I’tikaf adalah bahwa pada saat-saat tertentu manusia harus disengaged dari kehidupan sehari-hari supaya ia mampu merekonstruksi keadaan dengan lebih jujur dan objektif. Seperti kalau kita ingin tahu rumah kita, ya kita keluar dulu sebentar, lalu kita lihat dari luar.

Tasawuf Islam bukan tasawuf eksesif, maka setelah melakukan disengagement atau setelah keluar dari rumah, manusia harus kembali lagi ke rumahnya dan membangun kehidupan yang sejahtera. Dan lebih penting dari itu, aktualitas makna spiritual harus lebih berarti bagi pengembangan nilai kemanusiaan.

Abu Said al-Khudri, salah seorang tokoh tarekat Naqsyabandiyah, menuturkan, “Bukanlah disebut manusia sempurna orang yang memiliki setumpuk kekeramatan. Manusia sempurna adalah orang yang duduk diantara semua makhluk, berdagang bersama mereka, menikah, serta bercampur sesama manusia. Namun, mereka tidak lengah sedetikpun dari mengingat Allah”.

Ajaran tasawuf merupakan bimbingan bagi manusia untuk melampaui kesadaran yang bersifat fisik belaka (hanya ada dunia dan tak mengenal akhirat). Namun, ajaran ini bertujuan agar manusia menjadi manusia yang sempurna dan holistik.

Bila seorang sufi terjebak  pada sesuatu yang bersifat material, seperti keyakinan bahwa zawiyah itu haruslah berupa banguna material, maka kesufiannya telah bisa dianggap melenceng dari ajaran dasar tasawuf. Mari kita jadikan semua tempat sebagai zawiyah untuk tetap bisa mengingat Allah dalam setiap aktivitas hidup kita. Sehingga dalam setiap aktivitas hidup kita, dimanapun kita berada, hanya Allah di hati kita, tak ada yang lain. Wallahu a’lam bish showab. (RVR)