Dalam rangka memperkuat daya saing dan keberlanjutan kelembagaan, Pascasarjana menggelar Rapat Koordinasi yang secara khusus membahas strategi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) dengan target peningkatan jumlah pendaftar sebesar 15% pada tahun akademik mendatang. Rapat ini menjadi bagian dari langkah strategis institusi dalam menjawab tantangan dinamika pendidikan tinggi serta tuntutan peningkatan mutu akademik.
Rapat yang diikuti oleh pimpinan Pascasarjana, ketua dan sekretaris program studi, serta unsur pengelola akademik ini difokuskan pada evaluasi capaian PMB tahun sebelumnya, identifikasi kendala yang dihadapi, dan perumusan strategi pengembangan yang lebih adaptif dan terukur. Beberapa tantangan yang mengemuka antara lain meningkatnya persaingan antarperguruan tinggi, perubahan preferensi calon mahasiswa, serta kebutuhan penguatan citra mutu Pascasarjana.
Selain isu PMB, rapat juga menegaskan pentingnya penguatan mutu akademik dan kelembagaan sebagai fondasi utama peningkatan kepercayaan publik. Dalam konteks tersebut, dibahas penguatan Tridharma Perguruan Tinggi berbasis kolaborasi internasional yang diarahkan untuk meningkatkan reputasi akademik Pascasarjana di tingkat global. Kolaborasi internasional dinilai mampu memperluas jejaring akademik, memperkaya proses pembelajaran, serta meningkatkan daya tarik bagi calon mahasiswa.
Rapat turut membahas penataan ulang papan nama Pascasarjana dengan desain yang lebih representatif dan berwibawa sebagai identitas kelembagaan yang mencerminkan profesionalisme dan kemajuan institusi. Langkah ini dipandang strategis dalam memperkuat citra visual dan kehadiran Pascasarjana di lingkungan kampus.
Dalam upaya membangun budaya akademik yang produktif, rapat menyepakati pengajuan program penerbitan buku antologi sebanyak 3–5 judul tematik. Program ini dirancang untuk mendorong produktivitas dosen, memperkuat luaran Tridharma Perguruan Tinggi, serta memperkaya khazanah keilmuan Pascasarjana.
Sebagai wujud nyata internasionalisasi, rapat mengevaluasi pelaksanaan dosen internasional yang telah melibatkan Reza Shaker (Universiteit Leiden, Belanda), Shahril (Malaysia), dan Ivory (Queensland, Australia). Kehadiran para akademisi internasional tersebut dinilai memberikan kontribusi positif terhadap kualitas pembelajaran, perluasan perspektif keilmuan, serta peningkatan reputasi Pascasarjana di mata publik.
Agenda strategis lainnya adalah peninjauan pemetaan dosen homebase guna memastikan kesesuaian keilmuan dengan program studi, efektivitas proses pembelajaran, serta pemenuhan standar dan instrumen akreditasi. Penataan ini diharapkan mampu mendukung peningkatan mutu akademik secara berkelanjutan.
Dalam mendukung target PMB, rapat juga merumuskan strategi sosialisasi PMB yang lebih masif dan terarah, melalui optimalisasi media digital, penguatan peran alumni, serta pengembangan kerja sama dengan berbagai mitra strategis. Langkah ini diproyeksikan dapat memperluas jangkauan promosi dan meningkatkan minat calon mahasiswa.
Rapat turut menegaskan pentingnya evaluasi dan penguatan akreditasi program studi sebagai indikator utama mutu akademik dan dasar peningkatan kepercayaan calon mahasiswa. Akreditasi dipandang sebagai instrumen strategis yang tidak terpisahkan dari upaya peningkatan PMB dan penguatan kelembagaan.
Pimpinan Pascasarjana menegaskan bahwa seluruh hasil rapat akan ditindaklanjuti secara terukur dan berkelanjutan. “Target peningkatan PMB sebesar 15% harus berjalan seiring dengan penguatan akreditasi dan internasionalisasi Pascasarjana. Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan mutu akademik sebagai kunci utama kepercayaan dan daya tarik institusi,” ujarnya.
Melalui rapat koordinasi ini, Pascasarjana meneguhkan komitmennya untuk membangun kebijakan strategis yang terintegrasi antara peningkatan PMB, penguatan mutu akademik, dan internasionalisasi, demi mewujudkan Pascasarjana yang unggul, kompetitif, dan berdaya saing global.




