
Pascasarjana UIN Jurai Siwo Lampung kembali menyelenggarakan kegiatan Guest Lecture sebagai bagian dari penguatan akademik dan pengembangan wawasan riset mahasiswa. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu (29/11/2025) melalui platfom zoom meeting. Pada kesempatan ini, Pascasarjana menghadirkan akademisi internasional, Reza Shaker, Ph.D, Postdoctoral Researcher dan Lecturer di University of Amsterdam, Belanda.
Kegiatan ini mengusung tema “Developing an Anthropologically-based Research Map on Islamic Studies”, yang menekankan pentingnya pendekatan antropologis dalam pemetaan dan pengembangan riset-riset keislaman kontemporer.
Acara dibuka oleh Wakil Rektor I UIN Jurai Siwo Lampung, Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi kepada Pascasarjana atas konsistensinya menghadirkan narasumber internasional untuk memperkaya perspektif keilmuan sivitas akademika. “Selamat mengikuti Guest Lecture. Semoga kegiatan ini memberi inspirasi dan membuka ruang baru dalam pengembangan riset keislaman yang lebih progresif dan kontekstual,” ujar Prof. Dedi.
Mengungkap Mekanisme ‘Othering’ terhadap Muslim di Ruang Publik
Dalam sesi pemaparan, Dr. Reza menyampaikan hasil penelitiannya yang berjudul “Embodied Othering Encounters with Muslim-Looking Passengers: Riding across Amsterdam, Tallinn, Leipzig, and Turku”. Penelitian tersebut merupakan studi lintas negara yang mengkaji pengalaman keseharian penumpang Muslim—atau mereka yang berpenampilan “Muslim-looking”—di ruang mobilitas publik seperti bus, mini bus, dan kereta.

Menurut Dr. Reza, pengalaman Muslim atau mereka yang berpenampilan “Muslim-looking” di ruang transportasi publik tidak hanya bersifat sosial, tetapi sangat melekat pada tubuh dan rasa. Ia menjelaskan bahwa pengalaman tersebut hadir dalam tiga bentuk yang saling berkaitan. Pertama, sensorial encounters, yakni pengalaman inderawi yang muncul dari tatapan sinis, bahasa asing atau nada suara tertentu yang terdengar, hingga nuansa dan atmosfer yang dirasakan dalam ruang transportasi. Semua itu membentuk kesan awal yang sering kali membuat seseorang merasa diperhatikan secara berbeda.
Kedua, corporeal encounters, yaitu pengalaman yang berhubungan langsung dengan tubuh dan posisi seseorang di ruang publik. Bentuknya bisa berupa penghindaran fisik, orang yang enggan duduk berdekatan, perlakuan diskriminatif dari sesama penumpang atau petugas, hingga ujaran kebencian yang secara langsung diarahkan kepada mereka. Interaksi tubuh dan ruang ini menunjukkan bagaimana identitas dapat memengaruhi cara seseorang diperlakukan dalam situasi sehari-hari.
Ketiga, affective encounters, yaitu pengalaman emosional yang lebih halus namun sangat nyata dirasakan. Dr. Rezamenggambarkannya sebagai kecanggungan, ketegangan, ketakutan, atau rasa tidak nyaman yang muncul dari atmosfer sosial di sekitar. Emosi-emosi ini sering hadir tanpa kata-kata, tetapi sangat memengaruhi bagaimana seseorang merasakan ruang publik dan seberapa aman mereka merasa untuk bergerak di dalamnya.
Melalui tiga kategori tersebut, Dr. Reza menegaskan bahwa proses othering terhadap Muslim di ruang mobilitas publik bukan hanya terjadi pada level interaksi sosial, tetapi juga meresap ke dalam tubuh, perasaan, dan cara seseorang mengalami ruang sehari-hari. Dengan memahami ketiga pengalaman ini, penelitian dapat lebih jeli membaca dinamika sosial dan tantangan yang dihadapi kelompok minoritas dalam kehidupan urban.

Dr. Reza menekankan bahwa fenomena embodied othering ini berdampak langsung pada rasa aman, mobilitas, dan partisipasi sosial kelompok Muslim di kota-kota Eropa.
Setelah pemaparan materi, sesi diskusi dibuka oleh pemandu acara Ahmad Madzkur, Ph.D. Suasana berlangsung sangat interaktif. Para peserta tampak antusias mengajukan pertanyaan, baik secara langsung maupun melalui kolom chat. Berbagai isu terkait metodologi antropologi, pengalaman minoritas Muslim, hingga relevansi pendekatan interdisipliner dalam studi Islam menjadi fokus diskusi. Selain, perserta juga membagikan pengalamannya setelah berkunjung di negara minoritas Muslim.
Setiap pertanyaan ditanggapi secara langsung oleh Dr. Reza, yang memberikan penjelasan detail dan reflektif, sehingga semakin memperkaya pemahaman peserta terhadap tema yang dibahas.

Kegiatan Guest Lecture ini dihadiri oleh mahasiswa program magister dan doktor, para dosen UIN Jurai Siwo Lampung dan peserta dari berbagai wilayah dan kampus lain seperti UIN Raden Intan Lampung, IAIN Gorontalo, dan lain sebagainya. Antusiasme peserta mencerminkan tingginya minat terhadap topik sosial-antropologis dalam studi keislaman serta pentingnya dialog akademik lintas negara.
Prof. Dr. Suhairi, S.Ag., MH selaku Direktur Pascasarjana UIN Jurai Siwo Lampung berharap kegiatan ini dapat memperluas wawasan mahasiswa pascasarjana baik program Magister maupun Doktor serta mendorong lahirnya riset-riset inovatif yang sensitif terhadap dinamika sosial umat Islam di berbagai belahan dunia. Prof. Suhairi juga menyampaikan bahwa akan ada pertemuan lanjutan dengan Dr. Reza. Insya Allah, beliau akan memberikan Guest Lecture dalam tiga sesi terpisah dengan tema yang berbeda.




