Riset Kolaborasi di Observatorium Nasional Timau

Implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang penelitian, terus diperkuat melalui kolaborasi akademik dan riset yang berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan. Dr. Sakirman, S.H.I., M.S.I., dosen pascasarjana UIN Jurai Siwo Lampung, turut melaksanakan riset kolaboratif nasional bersama BRIN, ITERA, UIN Walisongo, serta mahasiswa by research ITB di Observatorium Nasional Timau yang berlokasi di Kaki Gunung Timau, Kecamatan Amfoang, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.


Kegiatan penelitian ini sepenuhnya didanai oleh Rumah Program Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa Tahun Anggaran 2026. Riset ini menjadi bagian dari penguatan kolaborasi antarlembaga dalam pengembangan kajian astronomi/ilmu falak, khususnya yang berkaitan dengan rukyatul hilal dan dinamika cahaya syafaq.

Adapun tema riset yang diusung adalah “Pengaruh Cahaya Syafaq terhadap Tingkat Keberhasilan Rukyat Hilal: Komparasi Model dan Data Rukyat.” Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana cahaya syafaq memengaruhi tingkat keberhasilan rukyat hilal melalui pendekatan komparatif antara model teoretis dan data hasil rukyat lapangan.

Pemilihan Observatorium Nasional Timau sebagai lokasi penelitian didasarkan pada sejumlah pertimbangan ilmiah yang mendukung kegiatan observasi. Nusa Tenggara Timur adalah wilayah yang memiliki periode musim kemarau yang relatif lebih lama, karena pengamatan benda langit sangat ideal dilakukan pada musim kemarau. Di wilayah ini, musim kemarau datang lebih awal dan berakhir lebih lambat dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia. Kondisi tersebut memberikan peluang pengamatan yang lebih panjang, yakni sekitar Maret hingga Oktober, dengan total kurang lebih sembilan bulan pengamatan efektif dalam setahun.

Selain itu, Observatorium Nasional Timau berada pada ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl), sehingga memiliki kondisi atmosfer yang lebih mendukung pengamatan astronomi. Lokasi ini juga dikenal bebas dari polusi cahaya, menjadikannya sangat ideal untuk penelitian yang membutuhkan ketelitian tinggi dalam mengamati benda-benda langit seperti bintang, komet, nebula, galaksi Bima Sakti, cahaya langit, termasuk fenomena syafaq dan rukyat hilal.

Melalui penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh temuan ilmiah yang berkontribusi pada pengembangan metodologi rukyat hilal yang lebih akurat, sekaligus memperkuat sinergi akademik antara perguruan tinggi, lembaga riset nasional, dan para peneliti di Indonesia.

Bagikan :

Artikel Lainnya

bg-dashboard-HD
Prof. Dr. Imam Mustofa, ...
Serang, 19 Mei 2026 — Program Pascasarjana Universitas Islam N...
1 week
IMG_9562 (1)
Direktur Pascasarjana UI...
UIN Jurai Siwo Lampung, 4 Mei 2026 — Pascasarjana Universitas ...
1 month
49623ca7-1f93-4bf2-8fe7-96504a76d5ec
Perkuat Kerja Sama Pendi...
Metro, 21 April 2026 — Kunjungan resmi Duta Besar Palest...
2 months
WhatsApp Image 2026-04-18 at 21.00.30
Riset Kolaborasi di Obse...
Implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidan...
2 months
bg-dashboard-HD
Dari Karya Monumental hi...
Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., MA (Dosen UIN Jurai Si...
2 months
WhatsApp Image 2026-04-09 at 13.39.42
Rapat Koordinasi PMB Pas...
Metro, 09 April 2026 – Pascasarjana UIN Jurai Siwo Lampu...
2 months